Agustus 23, 2009

Sebuah Pilihan

Posted in Uncategorized pada 8:03 am oleh butterflybetterlife

Sabtu, 22 Agustus 2009

Hari ini adalah puasa hari pertama bagi umat muslim.  Puasa untuk menahan segala hawa nafsu, godaan, cobaan, maupun emosi.  Karena saya tidak turut melaksanakan ibadah puasa, hari Sabtu ini saya melakukan aktivitas seperti Sabtu-Sabtu biasanya.  Saya mulai hari saya dengan saat teduh pagi setelah itu saya jogging di kampus UI Depok.  Kalau biasanya tiap weekend lingkungan kampus UI ramai dikunjungi orang-orang untuk berolah raga bersama keluarga atau mengadakan piknik di sekitar danau UI, maka hal tersebut tidak berlaku untuk hari ini.  Lingkungan kampus yang luasnya 300-an hektar tersebut sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang untuk berolah raga.  Sewaktu mendekati gedung rektorat saya bertemu dengan tiga orang teman saya.  Bersama-sama kami jogging melewati danau UI menuju selasar BNI.

Berolah raga dan berkumpul berbagi cerita bersama teman-teman merupakan pilihan terbaik untuk melepaskan penat yang saya rasakan satu minggu ini.  Saya bukan termasuk ke dalam orang-orang yang ekspresif dalam menceritakan permasalahan hidup kepada orang lain.  Kebanyakan saya mandiri dalam mengambil pilihan-pilihan, tetapi tidak lepas saya berserah pada Tuhan.  Banyak hal yang telah terjadi dalam hidup saya.  Manis dan pahit, saya mencoba untuk bersyukur sambil memetik hikmahnya.

Pahit yang saya rasakan saat ini imbas dari ketidaksetiaan saya pada hal-hal kecil.  Pertanggungjawaban akan saya berikan pada orang-orang yang meminta pertanggung jawab tentang pengharapan yang ada pada saya.  Selama ini saya tidak ingin orang-orang tersebut khawatir pada saya, oleh karena itu saya hanya berusaha untuk menenangkan.  Tetapi ternyata usaha saya kurang.  Waktunya sebentar lagi tiba dan saya bingung bagaimana memenuhi yang kurang tersebut. Hari ini saya telah memutuskan untuk mengerahkan segala kemampuan saya. Jujur saja melihat pengalaman-pengalaman yang telah lewat secara pikiran manusia, saya dapat mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil. Saya tidak tahu akankah ada mujizat dariNya.  Saya berdoa dan berserah padaNya. Tetapi untuk hasil akhir saya telah memasrahkan diri, saya akan bekerja keras dan bersabar karena saya percaya semua akan indah pada waktunya.

Tuhan telah menunjukkan kuasaNya pada saya.  Saya memperoleh pelajaran agar selalu rendah hati.  Semakin besar perkara yang diberikanNya semakin besar tanggung jawabnya.   Tetapi saya juga percaya, Tuhan memberikan saya perkara ini karena masih dalam batas kemampuan saya.  Saya tetap melihatnya dari sisi positif dan mengambilnya sebagai pengalaman hidup saya.  Saya tidak akan membiarkan emosi-emosi negatif menghampiri pikiran saya.  Kesusahan hari ini biarlah untuk hari ini saja.  Hidup masih panjang, rangkaian waktu tetap bergerak.  Saya telah mengambil pilihan dan harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.

Mei 10, 2009

The Wife of Noble Character

Posted in Uncategorized pada 3:02 pm oleh butterflybetterlife

Hari Sabtu kemarin (9/5), aku mengikuti Pemahaman Alkitab (PA) di Rumah Tumbuh Bersama (RTB), Depok.  Pemahaman alkitab merupakan kegiatan pemeliharaan iman kristiani melalui pembelajaran alkitab.  Kali ini PA yang dipimpin oleh mba Lis ini mengangkat tema ”Puji-pujian untuk istri yang cakap” yang diambil dari Amsal 31:10-31.

Ada perasaan yang sangat membahagiakan saat aku membaca ayat-ayat tersebut sekaligus tertekan gundah.  The Wife of Noble Character, kami mendefinisikannya sebagai seorang istri yang cakap, memiliki kualitas unggul dan berharga seperti permata.  Sosok yang tanpa cela, yang sepertinya sangat sulit untuk diterapkan.  Bagaimana kita bisa bertumbuh menjadi perempuan seperti itu dalam konteks diri kita masing-masing?

Kami memaknainya dengan bagaimana kami memandang diri kami sendiri, bagaimana menghargai diri sendiri.  Hal itu merupakan suatu pilihan, apakah kamu mau terlihat buruk atau terhormat?  Bagaimana cara kita membawa diri sendiri?  Tentunya dengan mengasah intelektualitas, memahami kelemahan dan kelebihan, bersyukur dan memahami bahwa diri kita berharga.

Pada ayat 11 dijelaskan bahwa hati seorang suami percaya pada istrinya.  Kami mengartikannya sebagai seorang istri haruslah menjaga martabat suaminya dengan menjaga mulut dan hati-hati dalam menangani keuangan.  Bertanggung jawab akan apa yang dilakukan.  Baiklah seorang perempuan memberitakan hal-hal dengan jelas dan memiliki suatu penguasaan diri yang tertuju pada Tuhan.  Hal ini dapat dimulai dengan menata pola hidup sehari-hari dan mendoakan pasangan hidup kita.

Dari ayat-ayat ini aku banyak belajar bagaimana Tuhan akan membentuk hati kita.  Bagaimana menjadi seorang perempuan yang sabar, rendah hati, tulus, bijaksana serta terbuka pada hikmat Tuhan.  Tuhan melihat apa yang kita kerjakan bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Ayat yang berkesan bagiku adalah yang tertulis pada Amsal 31:30:

Baca entri selengkapnya »

Mei 4, 2009

Bila Engkau…

Posted in Uncategorized pada 3:45 pm oleh butterflybetterlife

Bila engkau tidak bisa menjadi pohon cemara di bukit,
jadilah belukar yang indah di tepi parit.

Bila engkau tidak bisa menjadi belukar,
jadilah rumput yang membuat jalan-jalan semarak.

Bila engkau tidak bisa jadi gurami,
jadilah teri yang terindah di tambak.

Bila engkau tidak bisa menjadi komandan,
jadilah prajurit yang tangguh.

Bukan kebesaran yang menentukan menang atau kalah,
yang penting jadilah wajar,
apa adamu dan menjadi dewasa.

(Douglas Malloch)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.